Artikel
04/09/2013

Hubungan Bilateral Australia-Indonesia lewat Bahasa

Alex Murphy, Managing Director UTS:Insearch,Sydney, Australia. www.kompas.com
KOMPAS.com - Hubungan bilateral erat antara Australia-Indonesia terbina, salah satunya, melalui bahasa.
Khususnya bahasa Inggris yang menjadi bahasa ibu warga Australia hingga kini.
Managing Director University of Technology Sydney (UTS) Insearch Sydney Australia Alex Murphy mengemukakan hal itu dalam peluncuran program Academic English hasil kerja sama University of Technology Sydney (UTS):INSEARCH dengan ELTI Kompas Gramedia pada Selasa (3/9/2013).
"Data menunjukkan kalau semakin banyak warga Indonesia yang melanjutkan studinya ke Australia,"kata pria berkacamata ini.
Murphy selanjutnya menyitir data dari Unesco keluaran 2012 yang termaktub dalam buku Global Education Digest.
Di situ tercatat jumlah siswa Indonesia yang melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi ada 34.067 siswa.
Dari jumlah itu, 10.135 orang melanjutkan ke Australia. Lalu, 6.882 orang ke Amerika Serikat. Sementara, sisanya melanjutkan studi ke berbagai negara.
Menurut Murphy lebih lanjut, sepengalamannya berkecimpung dalam pendidikan lanjut warga Indonesia, selalu ada tantangan soal kemampuan berbahasa Inggris.
Lebih banyak dari warga Indonesia yang hanya memahami bahasa Inggris secara umum. "Artinya mereka hanya memahami grammar (tata bahasa) sebatas mendengarkan, membaca, atau bercakap-cakap,"katanya.
Padahal, sebagaimana ditegaskan pula oleh Manajer Operasional Area 1 ELTI Gramedia Evelina Kusumawardhani dalam kesempatan itu, ada banyak hal yang menjadi ciri khas pendidikan Australia.
"Di dalam sistem pendidikan Australia ada diskusi, penulisan laporan, membuat bahan presentasi dan sebagainya,"terang Evalina sembari menambahkan kalau siswa di dalam sistem pendidikan di Negeri Kanguru itu mesti bersikap aktif, juga dalam hal berbahasa.
Berangkat dari situlah, terang Murphy, pihaknya menjalin kerja sama pada program Academic English ini dengan ELTI. Nantinya, program ini bisa membantu para calon siswa mampu menguasai Bahasa Inggris memadai.
Evelina menerangkan program itu sendiri memiliki lima level penguasaan. Lama belajar ada 200 jam. Rinciannya, untuk kelas purnawaktu (full time), dalam seminggu ada 20 jam belajar.
Sementara, untuk kelas paruhwaktu (part time), ada sepuluh jam belajar per minggu. "Untuk bisa masuk ke dalam program itu, siswa mesti melewati placement test (tes penempatan),"terang Evelina.


Hemat

Lebih lanjut, Evelina juga menerangkan pihaknya menggelar program Academic English di dua lokasi ELTI. Yang pertama di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Karena Grup Kompas Gramedia memunyai Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, program ini pun diselenggarakan di universitas tersebut.
Pada praktiknya, di dalam kelas interaktif itu, rerata jumlah siswa ada 15 orang. Sementara itu, Evelina mengklaim kalau  Academic English mampu menghemat biaya para calon siswa yang akan melanjutkan belajar ke jenjang lebih tinggi di luar negeri.
"Setelah mengikuti program ini, siswa tidak perlu lagi mengikuti program penyetaraan kemampuan berbahasa Inggris di luar negeri,"ujarnya.
Catatan Evelina menunjukkan program penyetaraan seperti itu di Australia berlangsung antara dua atau tiga bulan. Rerata biayanya mencapai Rp 23 juta.
Sementara, biaya mengikuti program Acedemic English, jelas Evelina, sekitar Rp 6 juta sampai dengan Rp 9 juta. "Jika dibandingkan, kelihatan penghematannya,"demikian Evelina Kusumawardhani.

Ditulis oleh : Josephus Primus di www.kompas.com, Selasa, 3 September 2013 | 19:35 WIB   Telah dibaca : 2641
Copyright © 2013. ELTI Gramedia. All Rights Reserved.